MENJELAJAHI KARANGSAMBUNG: MENAPAKKAN KAKI DI DASAR SAMUDRA PURBA YANG TERSINGKAP

MENJELAJAHI KARANGSAMBUNG: MENAPAKKAN KAKI DI DASAR SAMUDRA PURBA YANG TERSINGKAP
MENJELAJAHI KARANGSAMBUNG: MENAPAKKAN KAKI DI DASAR SAMUDRA PURBA YANG TERSINGKAP
Wilayah
Indonesia
Penerbit
Shelby Media
Status Verifikasi
Dikurasi Redaksi
Redaksi
Shelby Media

Selama ini, pemahaman masyarakat mengenai dasar laut adalah wilayah misterius yang tersembunyi ribuan

meter di bawah permukaan air. Namun, di Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, fenomena langka

menunjukkan bahwa dasar laut purba dapat dipijak secara langsung tanpa perlu menyelam. Kawasan ini merupakan

sebuah keajaiban geologi, di mana bebatuan yang seharusnya berada di kedalaman samudra naik ke permukaan

bumi akibat dinamika tektonik purba (Setiawan, 2023).

Secara fisiografi, wilayah Karangsambung merupakan bagian dari Pegunungan Serayu Selatan dan menjadi

salah satu dari sedikit tempat di Pulau Jawa yang menyingkap batuan berumur Pra-Tersier (Scribd, 2012).

Penemuan kompleks batuan ini menjadi fondasi penting bagi para geolog dunia dalam membuktikan kebenaran

evolusi tektonik di kawasan Asia Tenggara.

Jejak Tumbukan Lempeng dan Melange Lok Ulo

Karangsambung pada masa Kapur Akhir hingga Eosen merupakan zona subduksi, yaitu tempat bertemunya

Lempeng Samudra Hindia-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Benua Eurasia (Patona, 2007). Akibat

tekanan yang luar biasa dahsyat, batuan dari kedua lempeng tersebut tercampur aduk secara mekanis menghasilkan

sebuah satuan batuan yang disebut sebagai Kompleks Melange Lok Ulo.

Istilah melange merujuk pada percampuran fragmen batuan dengan berbagai ukuran dan asal-usul yang

tertanam dalam masa dasar lempeng bersisik (Isyqi, 2019). Fenomena di sepanjang aliran Sungai Lok Ulo ini

menjadikan Karangsambung ibarat sebuah "mosaik bumi" raksasa yang mereduksi proses jutaan tahun di

kedalaman puluhan kilometer ke atas permukaan daratan.

Di kawasan Karangsambung, terdapat beberapa jenis batuan khas dasar laut dan kerak bumi bagian dalam

yang sangat jarang ditemukan di permukaan tanah wilayah lain, antara lain:

  1. Lava Bantal (Pillow Lava):

Batuan ini terbentuk dari lelehan magma yang membeku secara cepat akibat bersentuhan langsung dengan air

laut dalam di dasar samudra purba. Bentuknya yang bulat lonjong menyerupai tumpukan bantal menjadi bukti

tak terbantahkan bahwa lokasi tersebut dulunya adalah zona vulkanisme bawah laut sedalam ribuan meter.

  1. Batu Rijang (Chert):

Batu rijang yang banyak ditemukan di kawasan ini terbentuk dari endapan cangkang makhluk hidup

mikroskopis laut (radiolaria) yang mati dan mengendap di dasar samudra selama jutaan tahun. Batuan

sedimen ini merupakan indikator kuat dari lingkungan laut dalam.

3.Sekis Mika (Micaschist):

Batuan ini merupakan batuan metamorf (malihan) yang terbentuk akibat tekanan tinggi pada zona penunjaman

lempeng. Berdasarkan analisis petrologi, batuan metamorf di sepanjang kompleks Lok Ulo merekam proses

pembebanan subduksi hingga kedalaman belasan hingga puluhan kilometer di bawah permukaan bumi

sebelum akhirnya terangkat ke daratan (Patona, 2007).

Nilai Edukasi dan Pelestarian

Mengingat kompleksitas geologinya, Karangsambung kini dikelola sebagai cagar alam ilmu pengetahuan dan

geowisata terkemuka di Indonesia (Isyqi, 2019). Setiap tahunnya, ratusan mahasiswa, peneliti, dan akademisi dari

berbagai penjuru domestik mendatangi Kebumen untuk mempelajari sejarah bumi langsung dari sumbernya.

Kesimpulan

Karangsambung bukan sekadar deretan perbukitan biasa di Kebumen, melainkan lembaran sejarah bumi yang

terbuka. Keberadaan batuan purba seperti lava bantal, rijang, dan sekis mika membuktikan bahwa wilayah yang

kini menjadi permukiman dan lahan pertanian ini adalah dasar samudra dalam yang terangkat oleh kekuatan

tektonik. Menjaga kelestarian situs ini merupakan tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat

membaca kronik pembentukan Pulau Jawa.

Daftar Pustaka

Isyqi. (2019). Petrologi dan Geokimia Batuan Dasit Komplek Mélange Luk Ulo. Riset Geologi dan Pertambangan,

29(1).

Akses Publik: https://jrisetgeotam.brin.go.id/index.php/jrisgeotam/article/view/968/0

Patona, A. (2007). Batuan Metamorf Kompleks Melange Lok Ulo, Karangsambung – Banjarnegara, Jawa Tengah.

(Tesis Magister), Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Akses Publik: https://digilib.itb.ac.id/assets/files/disk1/565/jbptitbpp-gdl-atonpatona-28238-1-2007ts-r.pdf

Scribd. (2012). Geologi Regional Karangsambung. Diunggah oleh Komunitas Geologi.

Akses Publik: https://id.scribd.com/document/92161650/geolreg-karangsambung

2

Setiawan, N. I. (2023). Geologi Regional Daerah Karangsambung. (Bahan Ajar Materi Ekskursi), Institut

Teknologi Bandung, Bandung.

Akses Publik: https://digilib.itb.ac.id/assets/files/2023/QmFiIDIgTnVncm9obyBJIFNldGlhd2FuIDIyMDA4MDAyLnBkZg.pdf